Pernah dengar Tabaki?
Tabaki itu berusaha menangis yang
dianjurkan Nabi untuk melembutkan hati.
Allah menggambarkan orang-orang salih dengan menyebutkan
"… Bila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka rebah
bersujud dan menangis” (QS 19:58)
"mereka merebahkan diri atas
muka mereka sambil menangis dan bertambahlah kekhusyukan mereka” (QS 17:109)
Mereka dengan mudah menangis, karena hati mereka sudah sangat
lembut.
Tetapi kepada orang biasa, yang sukar menangis, Nabi
menasihatkan untuk tabaki.
Jadi, Islam
itu mengajarkan kecengengan, keputusasaan, dan ketidak-berdayaan?
Jadi, Islam
itu menanamkan pesimisme ? bukan ketabahan, kesabaran, dan keuletan?
Karena
rentetan pernyataan ini, sebagian ulama, seperti as-Sakhawi, membid’ahkan
tabaki.
Namun,
Sayyid Rasyid Ridha, yang dikenal sebagi penentang bid’ah yang paling militan,
untuk menolak anggapan ini. Ia menyatakan bahwa menangis dan merekayasa diri
supaya menangis sehingga khusyuk sangat baik dilakukan. Ia mengutip sabda Nabi
Saw.,
“Sesungguhnya Al-quran ini turunkan dengan kesedihan dan
kepedihan. Jika kamu membacanya, menangislah. Jika tidak mampu menangis,
berusahalah untuk menangis”
Yang buruk ialah menangis atau berusaha untuk menangis karena
riya. menangis atau pura-pura menangis untuk memberi kesan kepada orang lain
bahwa sedang khusyuk (Tafsir Al-Manar,Juz VIII:31).
Dalam
Islam, menangis bukan lambang keputus-asaan.
Menangis
mengungkapkan kelembutan hati untuk menerima petunjuk Tuhan.