Sadar gak sadar ada sebuah fenomena yang dekat dengan kita.
Sebuah fenomena yang perlu diungkap
tabir penyebabnya.
Dan fenomena itu bernama “Balada Mie
Instan”
Pertama,
Satu kurang, dua kebanyakan.
Ngerasain juga gak ? sering kali kalau
kita lagi makan seporsi mie instan itu selalu kurang. Tapi kalau nambah satu
porsi lagi, rasanya kekenyangan.
Kedua,
Kenapa makan mie instan di warung lebih
nikmat dari pada buat sendiri?
Bisa dibilang ini adalah fenomena agak aneh,
dimana Warung menyajikan mie instan yang dibuat dipabrik yang sama, dan
harusnya hasilnya juga sama tapi kenapa bisa lebih enak ya? Mungkin itu . . .
Karena dibuat dengan Hati
Ini adalah konsep dasar yang mendalam. Seseorang
chef Warung juga manusia yang butuh uang untuk keperluan hidup mereka yang
pas-pas an. Itu menjadi sebuah acuan untuk menjadi kebaikan dari mereka, karena
itu akan mendatangkan rezeki. Coba kalau masaknya gak pake hati? Asal-asalan?
gimana jadinya? pasti beda rasanya.
Karena banyak akessorisnya
Sawi, Telor, Kerupuk, dan Bawang Goreng adalah aksesoris pelengkap. Memakai
telor itu adalah pilihan! kalau punya uang banyak anda boleh memakai telor.
kalau enggak ada uang ya gak usah. Mungkin, ini bisa jadi tambahan kenikmatan
tersendiri untuk para penikmat mie Warung, ini juga menjadi nilai plus. Coba
kalau bikin disendiri, pasti jarang ada aksesorisnya soalnya ribet kalau beli
eceran.
Karena Air Rebusan,
Kalau untuk air rebusan tergantung
Warungnya, dan ini juga menjadi faktor utama, kenapa? karena airnya gak ganti-
ganti bro, dan disitu bakal tersimpan sari- sari mie yang sudah dimasak,
seabrek mie meninggalkan sarinya disitu, tapi ini membuat mie Warung menjadi
mantep! (Majas Ironi)
Karena Beli
Ya mungkin ini efek sampingnya, tapi
paling berpengaruh. buat kita menginginkan yang nikmat, dan mengeluarkan kocek
minimal Rp 6.000, mau gamau kita harus menikmati setiap suap mie yang kita
telan. Jadi, pasti rasanya lebih nikmat.
Ini cuma cerita ringan,
dibuat dengan berangan-angan.
Jadi mohon maaf ya apabila ada yang
tidak berkenan.
Salam,
Rifda Rahman