Friday, March 18, 2016

Balada Mie Instan

Sadar gak sadar ada sebuah fenomena yang dekat dengan kita.
Sebuah fenomena yang perlu diungkap tabir penyebabnya.
Dan fenomena itu bernama “Balada Mie Instan”

Pertama,
Satu kurang, dua kebanyakan.
Ngerasain juga gak ? sering kali kalau kita lagi makan seporsi mie instan itu selalu kurang. Tapi kalau nambah satu porsi lagi, rasanya kekenyangan.

Kedua,
Kenapa makan mie instan di warung lebih nikmat dari pada buat sendiri?

Bisa dibilang ini adalah fenomena agak aneh, dimana Warung menyajikan mie instan yang dibuat dipabrik yang sama, dan harusnya hasilnya juga sama tapi kenapa bisa lebih enak ya? Mungkin itu . . .

Karena dibuat dengan Hati
Ini adalah konsep dasar yang mendalam. Seseorang chef Warung juga manusia yang butuh uang untuk keperluan hidup mereka yang pas-pas an. Itu menjadi sebuah acuan untuk menjadi kebaikan dari mereka, karena itu akan mendatangkan rezeki. Coba kalau masaknya gak pake hati? Asal-asalan? gimana jadinya? pasti beda rasanya.

Karena banyak akessorisnya
Sawi, Telor, Kerupuk, dan Bawang Goreng adalah aksesoris pelengkap. Memakai telor itu adalah pilihan! kalau punya uang banyak anda boleh memakai telor. kalau enggak ada uang ya gak usah. Mungkin, ini bisa jadi tambahan kenikmatan tersendiri untuk para penikmat mie Warung, ini juga menjadi nilai plus. Coba kalau bikin disendiri, pasti jarang ada aksesorisnya soalnya ribet kalau beli eceran.

Karena Air Rebusan,
Kalau untuk air rebusan tergantung Warungnya, dan ini juga menjadi faktor utama, kenapa? karena airnya gak ganti- ganti bro, dan disitu bakal tersimpan sari- sari mie yang sudah dimasak, seabrek mie meninggalkan sarinya disitu, tapi ini membuat mie Warung menjadi mantep! (Majas Ironi)

Karena Beli
Ya mungkin ini efek sampingnya, tapi paling berpengaruh. buat kita menginginkan yang nikmat, dan mengeluarkan kocek minimal Rp 6.000, mau gamau kita harus menikmati setiap suap mie yang kita telan. Jadi, pasti rasanya lebih nikmat.

Ini cuma cerita ringan, dibuat dengan berangan-angan.
Jadi mohon maaf ya apabila ada yang tidak berkenan.

Salam,
Rifda Rahman
Share:

0 comments:

Post a Comment